Bisnis Online Paling Dahsyat, Produknya banyak dicari orang dan Tak perlu stok barang, ya cuma ada di JuenesseGlobal.com
Google
 


SELAMAT DATANG DI HERBAL SUPLEMEN SOLUSI HIDUP SEHAT UNTUK ANDA



pasang iklan baris

Rabu, 30 November 2011

7 Makanan Anti Kanker Prostat

Kanker prostat adalah suatu tumor jahat yang terdiri dari sel-sel kelenjar prostat. Penyakit ini menjadi penyebab kematian kedua terbesar pada laki-laki setelah kanker paru-paru.
Tapi Anda tidak perlu khawatir, sejumlah studi menunjukkan bahwa beberapa jenis makanan dapat mempengaruhi risiko Anda mengidap kanker prostat, dan bahkan memperlambat perkembangannya sekalipun Anda sudah mengidapnya. Lantas, makanan apa saja di alam ini yang dapat memerangi kanker prostat? Berikut ini adalah pembahasannya:

1. Tomat dan produk turunannya
Jika warna pink (pita pink) melambangkan perlawanan terhadap kanker payudara, warna merah mungkin bisa menjadi simbol sebagai pelawan kanker prostat. Sebuah antioksidan yang terkadung pada tomat, biasa disebut likopen dapat membantu mencegah atau memperlambat pertumbuhan kanker prostat.

Dalam melakukan tugasnya, likopen bekerja dengan cara mencegah aktivitas radikal bebas dalam merusak sel-sel, termasuk di dalam DNA. Kerusakan DNA dapat menyebabkan sel-sel sehat berubah menjadi kanker. Sebuah studi menunjukkan kebiasaan diet dan gaya hidup dari 50.000 laki-laki, yang makan setidaknya dua porsi saus tomat dalam seminggu mengalami penurunan risiko kanker prostat sebesar 23 persen.

2. Tahu, susu kedelai dan produk kedelai lainnya
Tahu dan makanan yang terbuat dari kedelai lainnya mengandung senyawa mirip estrogen yang disebut isoflavon. Zat ini mempunyai fungsi sebagai penghambat perkembangan sel kanker dan bahkan dapat membuat sel-sel kanker menghancurkan dirinya sendiri.

Studi yang dilakukan selama tiga bulan di Cander Research Center of Hawaii menemukan, risiko kemungkinan seseorang mengidap kanker prostat turun sebesar 14 persen pada pria yang makan dua porsi kedelai per setiap harinya.

Sementara itu, studi lain yang melibatkan 12.000 pria yang dilakukan di Loma Linda University California menemukan, pria yang mengonsumsi lebih dari satu porsi susu kedelai setiap hari, 70 persen lebih rendah mengidap kanker prostat ketimbang pria yang tidak pernah meminumnya.

3. Teh hijau
Sebuah riset menunjukkan, senyawa kuat dalam teh hijau yang disebut epigallocatechin gallate (EGCG) mampu memblok proses perkembangan kanker. Studi populasi mengklaim, senyawa ini mungkin dapat menjadi pelindung dari beberapa jenis kanker, termasuk kanker prostat, lambung, kolon, dan payudara. Bahkan sebuah studi di Cina menemukan bahwa pria yang minum lebih dari tiga cangkir teh hijau setiap hari, dapat menekan risiko kanker prostat lebih dari 70 persen.

4. Jus delima
Jus buah delima penuh dengan bahan kimia alami yang disebut polifenol. Ini adalah sejenis antioksidan kuat, dan karena alasan itulah mengapa jus delima dikatakan cukup baik dalam melawan kanker. Beberapa studi awal menunjukkan, polifenol dalam jus muncul untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker dan mendorong sel-sel kanker untuk membunuh diri mereka sendiri.

5. Salmon, makarel, sarden, dan ikan berlemak lainnya
Mengonsumsi beberapa jenis ikan laut dapat melindungi prostat Anda. Sebuah riset yang dilakukan para ilmuwan asal Swedia terhadap lebih dari 6.000 pria (diamati selama 30 tahun) menemukan bahwa mereka yang diet kaya asam lemak omega 3 dalam jumlah yang moderat, memiliki risiko 30 persen lebih rendah terkena kanker prostat.

Catatan: Cobalah untuk mendapatkan asam lemak esensial dari makanan, bukan pil. Sejauh ini penelitian menunjukkan, konsumsi ikan dapat melindungi prostat, tapi tidak untuk mereka yang mengambil suplemen minyak ikan.

6. Brokoli, kubis dan sayuran lainnya
Sayuran seperti brokoli dan kubis mengandung beberapa senyawa antikanker yang membantu membersihkan tubuh dari zat-zat yang dapat merusak sel dalam tubuh. Data dari Health Professionals Follow-Up Study menunjukkan bahwa makan lima atau lebih porsi sayuran setiap minggu dapat menurunkan risiko Anda mengalami kanker prostat hingga 20 persen.

7. Bawang putih
Meski menimbulkan bau yang kurang sedap di mulut, tetapi bawang putih dan berbagai jenis bawang lainnya dapat membantu mencegah tumor dengan menghilangkan zat penyebab kanker sebelum mereka merusak sel. Bawang juga dapat mendorong sel-sel kanker untuk menghancurkan diri mereka sendiri.

Peneliti dari National Cancer Institute menemukan, mereka yang makan sedikitnya 10 gram bawang putih atau bawang merah setiap harinya dapat menurunkan risiko kanker prostat sebesar 49 persen. Bahkan, pria yang mengonsumsi sedikitnya lima siung bawang putih setiap minggunya dapat menurunkan risiko kanker prostat hingga 53 persen.

Sumber : Kompas.com - Bramirus Mikail | Asep Candra | Selasa, 29 November 2011


Selengkapnya.....

Daun Sukun Pelindung Jantung

Sukun, yang dalam bahasa Inggris disebut bread fruit, buahnya lebih banyak dikenal sebagai penganan yang digoreng atau dijadikan tepung sukun yang bisa dioleh menjadi mi atau roti. Padahal, tanaman sukun (Artocarpus altilis) sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obat pencegah penyakit jantung.

Secara tradisional, daun sukun telah dipakai untuk mengobati penyakit hati, inflamasi, jantung, dan ginjal. Sementara itu, di Taiwan, akar dan batang tanaman sukun dimanfaatkan untuk menyembuhkan sirosis (kanker hati).

Upaya penelitian dan pengembangan sukun sebagai obat telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebelumnya, sukun lebih banyak diteliti untuk penyakit diabetes. Baru pada tahun 2004 sukun mulai dilirik untuk penyakit kardiovaskular.

"Sukun memiliki flavonoid yang khas," kata Dr Tjandrawati Mozef, peneliti dari LIPI yang giat meneliti sukun untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Tjandra menjelaskan, uji khasiat terhadap ekstrak daun sukun menunjukkan efek penurunan kadar kolesterol darah dan akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta pada mencit di laboratorium. Studi in vitro juga menyimpulkan, ekstrak daun sukun efektif melindungi jantung dari serangan iskemik akut.

Uji toksisitas menunjukkan tidak ditemukannya efek samping toksik pada hewan uji, tidak memengaruhi fungsi jantung, ginjal dan hati, maupun profil hematologi.

"Kita tinggal melakukan uji klinis untuk pengembangan obat baru. Bila ini berhasil, diharapkan akan dihasilkan obat pencegah penyakit kardiovaskular yang lebih murah dan terjangkau masyarakat," kata Tjandrawati ketika menyampaikan penelitiannya dalam acara seminar yang diadakan Badan Litbang Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Sumber : Kompas.com Kamis, 15 April 2010

Selengkapnya.....

Sukun bagi Pembuluh Darah

Sukun sudah lama dikenal di tengah masyarakat Indonesia. Buahnya biasa digoreng dibuat keripik, atau direbus sebagai makanan kecil. Namun, ternyata tanaman yang tumbuh di sekitar kita tersebut mempunyai khasiat ampuh bagi kesehatan, terutama bagi jantung dan pembuluh darah.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Tjandrawati M Ozef, dan rekan-rekannya telah mengadakan serangkaian penelitian mengenai khasiat daun sukun. Hasil penelitian itu disampaikan Tjandrawati dalam sebuah seminar di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu.

Penyakit jantung dan pembuluh darah kian menjadi permasalahan besar seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pola diet tinggi lemak hewani kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan buruk merokok menjadi beberapa faktor risiko pemicu gangguan jantung dan pembuluh darah.

Melihat kecenderungan tersebut, para peneliti LIPI menapis 42 tanaman yang dianggap berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular. Pilihan meneliti lebih dalam jauh kepada sukun.

Seluruh bagian tanaman sukun mengandung senyawa flavonoid. Sejumlah turunan flavon telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi dari bagian akar dan ranting tumbuhan tersebut sebelumnya. ”Tanaman itu mempunyai flavonoid yang khas,” ujarnya.

Sukun (Artocarpus altilis) termasuk dalam famili Moraceae alias keluarga Mulberry atau lebih sering dikenal sebagai bread fruit.

Tanaman tersebut tumbuh pada daerah tropis, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Tjandrawati mengungkapkan, masyarakat Indonesia secara tradisional menggunakan daun sukun untuk pengobatan penyakit hati, inflamasi, jantung, ginjal, sakit gigi, dan gatal-gatal.

Masyarakat Taiwan secara tradisional menggunakan akar dan batangnya bagi pengobatan penyakit hati dan hipertensi. ”Masyarakat menggunakan sukun untuk pengobatan dengan merebus daunnya, tetapi masih kurang diketahui kandungan khusus yang bermanfaat besar, bagaimana cara penggunaannya, dan dosisnya,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman empiris masyarakat tersebut, Tjandrawati tertarik meneliti lebih dalam mengenai potensi daun sukun. Melalui penelitian panjang sejak tahun 2004, tanaman sukun berhasil dibuktikan khasiatnya. Dalam penelitian itu, daun sukun dibuat menjadi ekstrak. Komponen hasil ekstraksi dengan etanol, yakni tiga senyawa flavonoid dan Beta-sitoserol tersebut yang kemudian diteliti khasiatnya.

Studi khasiat terhadap daun sukun meliputi agregasi platelet (penggumpalan trombosit), viskositas darah (kekentalan darah) dan iskemia akut (kurangnya aliran darah pada jantung).

Studi itu juga mencakup atherosclerosis (penebalan dinding pembuluh darah akibat penumpukan lemak) yang mencakup akumulasi lipid (lemak) pada aorta, dan kolesterol darah.

Uji khasiat secara in vitro (dalam lingkungan buatan) maupun in vivo (dalam tubuh hidup) terhadap ekstrak tanaman tersebut menunjukkan hasil sangat baik.

Studi in vivo, misalnya, menyimpulkan bahwa ekstrak etil asetat yang mengandung flavonoid dan Beta-sitoserol dengan perbandingan 100 mg/kg dan 20 mg/kg dapat menghambat agresi platelet, mengurangi viskositas darah, dan melindungi melindungi jantung dari iskemia yang akut.

Selanjutnya, uji khasiat ekstrak etil asetat terhadap kadar kolesterol darah dan akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta pada tikus galur Wistar menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dosis 150 mg/ kg berat badan mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah secara signifikan.

Sukun juga mampu menghambat akumulasi lemak pada dinding pembuluh darah aorta. ”Tidak terjadi penimbunan lemak,” ujar Tjandrawati.

Daya racun

Dalam penelitian itu diuji pula daya racun dari ekstrak daun sukun tersebut. Kabar baiknya, uji toksisitas subkronis yang dilakukan selama 90 hari pada tikus putih galur Sprague Dawley menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak etil asetat daun sukun dengan dosis bervariasi, yakni dosis uji 83,33 mg/kg berat badan per hari, 166,65 mg/kg berat badan per hari, dan 333,35 mg/kg berat badan per hari tidak memengaruhi fungsi jantung, ginjal, hati ataupun profil darah.

Uji toksisitas akut pada mencit ICR jantan dan betina menggunakan dosis tinggi total flavonoid 4,5 g/kg berat badan dan Beta-sitoserol 2,5 g/kg berat badan tidak menunjukkan penurunan berat badan, bahkan berat badan cenderung naik. Observasi terhadap perilaku hewan uji selama eksperimen seperti bagaimana hewan uji berjalan, makan, minum serta dan kecerahan mata dan bulu juga tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan.

Tjandrawati mengatakan, dapat disimpulkan bahwa pemberian dosis tinggi total flavonoid dan Beta-sitoserol pada mencit ICR tidak menunjukkan efek toksik ada hewan uji.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Sugeng Broto mengatakan, prospek dari formula yang dikerjakan oleh LIPI tersebut sangat besar lantaran nantinya dapat diproduksi sebagai obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Kini, LIPI aktif meneliti sejumlah tanaman yang dipandang berkhasiat. Jika ingin dikembangkan menjadi fitofarmaka, masih dibutuhkan uji klinis. Ekstrak flavonoid dan Beta-sitoserol dari daun sukun itu sendiri kini telah dipatenkan.

Sumber : Kompas.com Selasa, 11 Mei 2010 Oleh INDIRA PERMANASARI

Selengkapnya.....
http://34c2b7ttqgxoem99y4mmldvq41.hop.clickbank.net/

Cari Blog Ini